Sabtu, 17 Oktober 2015

Love My Hater - Part 4 : Aku Mau, Asal...


“Aku mau asal....” Claudia melanjutkan.

“Asal apa?” tanya Friedrich penuh dengan rasa penasaran.

“Asal kamu bisa membuktikan....” Lanjut Claudia.

“Membuktikan apa?” tanya Friedrich.

“Membuktikan kalau dalam sebulan, kamu bisa berubah menjadi orang yang baik dan gak bikin orang lain sebel! Bahkan Julia, sahabatku, gak lagi membenci kamu!” Claudia memberi syarat untuk menerima Friedrich sebagai cowoknya.



Friedrich terdiam. Claudia menduga Friedrich tidak akan mau menerimanya dan akan memaksanya untuk menerimanya tanpa syarat.



“Aku bersedia. Malah aku akan berusaha untuk memenuhinya dalam 2 minggu,” ucap Friedrich dengan mantap. Claudia tak percaya dan kagum dengan keberanian Friedrich.

“Oke, aku pegang janji kamu!” kata Claudia sambil menggenggam kedua tangan Friedrich dan pergi dari tempat itu.



Keesokan harinya, sekolah gempar. Friedrich Krause yang dikenal sebagai anak cerdas namun bandel, sering berulah, dan mencari masalah dengan orang lain mendadak berubah menjadi orang yang baik dan lemah lembut. Ia yang biasanya selalu berbuat iseng seperti menyirami cewek dengan minuman di kantin kali ini tidak melakukannya sama sekali. Kita dan Claudia sih sudah tahu kenapa tetapi teman-temannya belum.



“Aku heran! Kepalanya Friedrich habis kebentur dinding atau dia salah minum obat?! Kok dia jadi aneh banget hari ini?” tanya Sofie keheranan.

“Paling dia mau cari wajah atau dia ngerencanain sesuatu!” hardik Julia.

“Aku rasa enggak!” timpal Claudia.

“Dari mana kamu tahu kalau enggak?” tanya Julia curiga.

Feeling aku aja!” jawab Claudia dengan santai.

Tapi apa salahnya si kalau Friedrich mau berubah jadi orang yang baik?!” Bella ikut menimpali.

“Hah, aku tetap gak yakin kalau dia emang benar-benar udah berubah!” Julia tiba-tiba berdiri dan hendak pergi.

“Mau ke mana, Julia?!” cegat Claudia.

“Kamu pasti udah tahu!” jawab Julia lalu melangkah keluar kelas.



Dengan langkah kaki yang begitu cepat, cewek bertubuh chubby itu mengarahkan dirinya ke satu arah yang jelas...



"Friedrich itu sebenarnya pintar dan lumayan cakep, tapi kelakuannya buruk sekali. Kira-kira kenapa ya?!" Sofie melanjutkan pembicaraan.

"Yang aku denger sih gara-gara orang tuanya bercerai lima tahun lalu, makanya dia jadi cuma serius belajar buat ngelupain masalah keluarganya dan biar bisa dapat kerja bagus nantinya. Karena kurang kasih sayang dari ibu, kelakuannya jadi buruk. Makanya aneh banget kalau hari ini dia jadi kayak begitu," balas Bella.

"Stop akting kamu sekarang juga, dasar munafik!" teriakan Julia dari luar kelas menarik perhatian mereka bertiga yang segera keluar dari kelas.

"Julia, aku lagi gak akting dan aku ngelakuin semua ini dengan sadar! Aku udah capek jadi orang yang menyebalkan dan aku ingin jadi orang yang menyenangkan," ucap Friedrich yang berusaha meyakinkan Julia bahwa ia tidak sedang berpura-pura.

Pembohong!” ucap Julia dengan lantang disertai gestur meledek.

“Ah, sudahlah! Yang jelas aku gak lagi berpura-pura!” Friedrich yang tidak ingin memperpanjang masalah dengan Julia melangkah pergi namun dicegat Julia.

“Jangan pergi dulu, pengecut! Dengarin aku dulu! Aku akan awasi semua gerak-gerik kamu dan kalau sampai kamu jadian sama Claudia, gak ada ampun buat kamu!” ancam Julia lalu melepaskan tangan Friedrich dan kembali ke kelas.



Hari demi hari, minggu demi minggu, Friedrich terus saja bersikap baik dan ramah kepada semua orang. Sebulan berlalu, Friedrich yang menyebalkan dan suka mencari masalah itu dalam sekejap lenyap. Berganti dengan Friedrich yang ramah dan disukai banyak orang. Claudia merasa begitu senang dengan perubahan yang dialami Friedrich, namun masih menyimpan keraguan sebab Julia, sahabatnya, terlihat masih tidak suka dengan Friedrich. Sebulan kemudian. Jam pulang sekolah...



“Friedrich!” Claudia memanggil Friedrich yang bersiap-siap pulang dengan sepedanya.

“Ada apa?” tanya Friedrich sambil membuka rantai sepedanya.

“Aku udah melihat perubahan kamu dalam sebulan ini. Kamu udah berhasil menjadi orang yang baik dan disenangi orang. Tapi sayangnya, Julia kelihatannya masih tetap gak suka sama kamu. Jadi....”

Siapa bilang aku gak suka?! Aku udah setuju kok kalau kalian jadian!” mendadak Julia muncul dan menyela perkataan Claudia.

“Kamu serius, Julia?!” tanya Claudia keheranan.

“Iya dong! Ingat Claudia, kita ini sahabat sehidup semati! Kalau kamu senang, aku juga senang. Kalau kamu sedih, aku juga sedih. Kalau kamu mati, aku juga mati,” ucap Julia sambil mendekapkan tangan Claudia ke tubuhnya.



Claudia terharu dan memeluk Julia sementara Friedrich merasa lega. Julia pun berlalu dari tempat itu.



“Jadi artinya kita sudah resmi jadian ‘kan?” tanya Friedrich.

“Iya!” ucap Claudia.


Mereka pun akhirnya berpelukan sementara Julia terus melangkah jauh meninggalkan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bus Terakhir

Kakiku melangkah agak sedikit sempoyongan. Arlojiku menunjukkan waktu pukul 22.15. Huh! Sudah cukup larut malam. Pasti Claudie akan marah-m...