“Aku mau asal....” Claudia melanjutkan.
“Asal apa?” tanya Friedrich penuh dengan rasa penasaran.
“Asal kamu bisa membuktikan....” Lanjut Claudia.
“Membuktikan apa?” tanya Friedrich.
“Membuktikan kalau dalam sebulan, kamu bisa berubah menjadi orang
yang baik dan gak bikin orang lain sebel! Bahkan Julia, sahabatku, gak lagi
membenci kamu!” Claudia memberi syarat untuk menerima Friedrich sebagai
cowoknya.
Friedrich terdiam. Claudia menduga Friedrich tidak akan mau
menerimanya dan akan memaksanya untuk menerimanya tanpa syarat.
“Aku bersedia. Malah aku akan berusaha untuk memenuhinya dalam 2
minggu,” ucap Friedrich dengan mantap. Claudia tak percaya dan kagum dengan
keberanian Friedrich.
“Oke, aku pegang janji kamu!” kata Claudia sambil menggenggam kedua
tangan Friedrich dan pergi dari tempat itu.
Keesokan harinya, sekolah gempar. Friedrich Krause yang dikenal
sebagai anak cerdas namun bandel, sering berulah, dan mencari masalah dengan
orang lain mendadak berubah menjadi orang yang baik dan lemah lembut. Ia yang
biasanya selalu berbuat iseng seperti menyirami cewek dengan minuman di kantin
kali ini tidak melakukannya sama sekali. Kita dan Claudia sih sudah tahu kenapa
tetapi teman-temannya belum.
“Aku heran! Kepalanya Friedrich habis kebentur dinding atau dia
salah minum obat?! Kok dia jadi aneh banget hari ini?” tanya Sofie keheranan.
“Paling dia mau cari wajah atau dia ngerencanain sesuatu!” hardik
Julia.
“Aku rasa enggak!” timpal Claudia.
“Dari mana kamu tahu kalau enggak?” tanya Julia curiga.
“Feeling aku aja!” jawab Claudia
dengan santai.
Tapi apa salahnya si kalau Friedrich mau berubah jadi orang yang
baik?!” Bella ikut menimpali.
“Hah, aku tetap gak yakin kalau dia emang benar-benar udah
berubah!” Julia tiba-tiba berdiri dan hendak pergi.
“Mau ke mana, Julia?!” cegat Claudia.
“Kamu pasti udah tahu!” jawab Julia lalu melangkah keluar kelas.
Dengan langkah kaki yang begitu cepat, cewek bertubuh chubby itu mengarahkan dirinya ke satu
arah yang jelas...
"Friedrich itu sebenarnya pintar dan lumayan cakep, tapi
kelakuannya buruk sekali. Kira-kira kenapa ya?!" Sofie melanjutkan
pembicaraan.
"Yang aku denger sih gara-gara orang tuanya bercerai lima
tahun lalu, makanya dia jadi cuma serius belajar buat ngelupain masalah
keluarganya dan biar bisa dapat kerja bagus nantinya. Karena kurang kasih
sayang dari ibu, kelakuannya jadi buruk. Makanya aneh banget kalau hari ini dia
jadi kayak begitu," balas Bella.
"Stop akting kamu sekarang juga, dasar munafik!" teriakan
Julia dari luar kelas menarik perhatian mereka bertiga yang segera keluar dari
kelas.
"Julia, aku lagi gak akting dan aku ngelakuin semua ini dengan
sadar! Aku udah capek jadi orang yang menyebalkan dan aku ingin jadi orang yang
menyenangkan," ucap Friedrich yang berusaha meyakinkan Julia bahwa ia
tidak sedang berpura-pura.
Pembohong!” ucap Julia dengan lantang disertai gestur meledek.
“Ah, sudahlah! Yang jelas aku gak lagi berpura-pura!” Friedrich
yang tidak ingin memperpanjang masalah dengan Julia melangkah pergi namun
dicegat Julia.
“Jangan pergi dulu, pengecut! Dengarin aku dulu! Aku akan awasi
semua gerak-gerik kamu dan kalau sampai kamu jadian sama Claudia, gak ada ampun
buat kamu!” ancam Julia lalu melepaskan tangan Friedrich dan kembali ke kelas.
Hari demi hari, minggu demi minggu, Friedrich terus saja bersikap
baik dan ramah kepada semua orang. Sebulan berlalu, Friedrich yang menyebalkan
dan suka mencari masalah itu dalam sekejap lenyap. Berganti dengan Friedrich
yang ramah dan disukai banyak orang. Claudia merasa begitu senang dengan perubahan
yang dialami Friedrich, namun masih menyimpan keraguan sebab Julia, sahabatnya,
terlihat masih tidak suka dengan Friedrich. Sebulan kemudian. Jam pulang
sekolah...
“Friedrich!” Claudia memanggil Friedrich yang bersiap-siap pulang
dengan sepedanya.
“Ada apa?” tanya Friedrich sambil membuka rantai sepedanya.
“Aku udah melihat perubahan kamu dalam sebulan ini. Kamu udah
berhasil menjadi orang yang baik dan disenangi orang. Tapi sayangnya, Julia
kelihatannya masih tetap gak suka sama kamu. Jadi....”
Siapa bilang aku gak suka?! Aku udah setuju kok kalau kalian
jadian!” mendadak Julia muncul dan menyela perkataan Claudia.
“Kamu serius, Julia?!” tanya Claudia keheranan.
“Iya dong! Ingat Claudia, kita ini sahabat sehidup semati! Kalau
kamu senang, aku juga senang. Kalau kamu sedih, aku juga sedih. Kalau kamu
mati, aku juga mati,” ucap Julia sambil mendekapkan tangan Claudia ke tubuhnya.
Claudia terharu dan memeluk Julia sementara Friedrich merasa lega.
Julia pun berlalu dari tempat itu.
“Jadi artinya kita sudah resmi jadian ‘kan?” tanya Friedrich.
“Iya!” ucap Claudia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar