Sabtu, 07 Oktober 2017

Sejarah Perkembangan Nilai Nominal Rupiah


Setiap negara memiliki mata uang yang berlaku di negara masing-masing sebagai alat pembayaran yang sah. Begitu pula rupiah, mata uang Indonesia. Rupiah telah melewati perjalanan yang cukup panjang hingga sekarang mencapai nilai nominal tertinggi sebesar Rp100.000 sekarang. Bagaimanakah sejarahnya?

1945
Segera setelah merdeka pada 1945, Indonesia mulai mencetak mata uangnya sendiri sebagai syarat sahnya sebuah negara merdeka. Uang tersebut disebut "Oeang Republik Indonesia" (ORI) dan memiliki tanggal terbit 17 Oktober 1945 meskipun akibat konflik dengan Belanda, uang ini tidak bisa didistribusikan segera ke masyarakat dan baru mulai beredar di Pulau Jawa pada 10 Oktober 1946. Nominal yang diterbitkan adalah 1 sen, 5 sen, 10 sen, 50 sen, Rp1, Rp5, Rp10, dan Rp100.

1947
Agresi militer Belanda I membuat pusat pemerintahan Indonesia harus dipindahkan ke Yogyakarta. Uang baru diterbitkan dan muncul pecahan tertinggi baru, Rp250. Bertanggal 26 Juli 1947 dengan kota terbit Yogyakarta.

1948
Uang dengan pecahan yang tidak biasa seperti Rp400 dikeluarkan pada tahun 1948. Pada tahun ini, pusat pemerintahan Indonesia, Yogyakarta, diduduki Belanda, lewat Agresi Militer Belanda II. Setiap daerah diberi kewenangan untuk mencetak uang sendiri selama masa darurat ini. Kabupaten Labuhan Batu di Sumatera Utara bahkan mengeluarkan uang pecahan Rp25 juta!

1950
Pada 1949, kedaulatan Indonesia diakui dan Republik Indonesia Serikat berdiri. Republik Indonesia Serikat mengeluarkan mata uangnya sendiri, pecahan Rp5 dan Rp10. Di samping itu, De Javasche Bank, bank sentral zaman Hindia Belanda, juga masih mengeluarkan mata uang sebelum akhirnya dinasionalisasi pada 1953 dan menjadi Bank Indonesia.



1953
Pada 1953, Bank Indonesia resmi berdiri dan mulai mencetak uang. Mulai periode ini hingga 1968, uang yang beredar di Indoensia dicetak oleh 2 pihak, pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia. Pecahan tertinggi baru, Rp1.000, diperkenalkan pada 1952.



1958
Uang pecahan tertinggi baru kembali diterbitkan, Rp2.500. Uang yang beredar di Indonesia pada tahun 1950-an dicetak oleh Thomas de La Rue dan Percetakan Kebayoran.

1963 - 1964
Karena kondisi ekonomi yang memburuk dan tingkat inflasi yang tinggi, jumlah uang yang beredar terus meningkat. Uang pecahan tertinggi baru dikeluarkan kembali. Rp5.000 pada 1963 dan Rp10.000 pada 1964.

1965 - 1966
Pada 13 Desember 1965, pemerintah Indonesia memotong nilai nominal rupiah sebesar 99,9% atau menjadi tinggal 0,1% dari nilai awalnya. Uang Rp1.000 menjadi Rp1. Karena harga barang tidak ikut terpotong, kebijakan ini sangat merugikan pemegang uang. Uang baru hasil kebijakan ini dikeluarkan pada 1966 menggantikan semua uang lama.

1968 - 1970
Pada 1968, kewenangan pemerintah untuk mencetak dan menerbitkan uang berakhir dan Bank Indonesia menjadi satu-satunya lembaga di Indonesia yang berhak mencetak dan menerbitkan uang. Uang baru pun diperkenalkan dengan menampilkan Jenderal Besar Sudirman di bagian depan. Pecahan yang dikeluarkan antara 1968 dan 1970 adalah Rp1, Rp2,5, Rp5, Rp10, Rp25, Rp50, Rp100, Rp500, Rp1.000, Rp5.000, dan Rp10.000. Sampai 1992, uang kertas Indonesia mencantumkan nama pelukis uang di bagian bawah uang.

1975 - 1992
Indonesia beberapa kali memperbarui desain uang yang digunakan. Pecahan di bawah Rp100 setelah 1975 tidak lagi dicetak dalam bentuk kertas melainkan logam. Pada 1975, uang Rp10.000 baru diterbitkan dan disebut-sebut sebagai salah satu uang dengan desain terbaik sepanjang sejarah. Uang kertas yang diterbitkan pada periode ini adalah Rp100 (1977 dan 1984), Rp500 (1977, 1982, dan 1988), Rp1.000 (1975, 1980, dan 1987), Rp5.000 (1975, 1980, dan 1986), dan Rp10.000 (1975, 1979, dan 1985).

1992
Pada 1992, seluruh nominal uang kertas Indonesia diperbarui. Uang kertas yang terkenal hingga sekarang, seperti uang kertas Rp500 bergambar orang utan, diterbitkan pada periode ini. Pada 10 Februari 1992, pecahan tertinggi baru, Rp20.000, diterbitkan, bersamaan dengan Rp5.000. Uang logam yang diterbitkan pada periode ini berkisar antara Rp25 dan Rp1.000.

1993
Setahun kemudian, 1993, uang pecahan baru kembali dikeluarkan. Pada 1 Maret 1993, uang pecahan Rp50.000 diluncurkan dan menggambarkan hasil pembangunan di Indonesia sejak 1969 untuk memperingati 25 tahun pembangunan Indonesia. Uang ini diterbitkan dalam 2 versi, versi kertas biasa dan polimer. Versi kertas biasa dicetak oleh Perum Peruri sementara versi polimer dicetak di Australia. Pada 1995, uang Rp50.000 versi ini, bersama uang Rp20.000 tahun 1992, diberi tambahan benang pengaman.
Pada 1997, terjadi krisis finansial Asia. Nilai 1 dolar AS yang semula hanya Rp2.300 melonjak menjadi Rp10.000 hanya kurang dari setahun. Krisis ekonomi memukul Indonesia bahkan memicu krisis politik. Beberapa bulan sebelum rezim Orde Baru runtuh, uang Rp10.000 dan Rp20.000 yang baru diterbitkan. Uang Rp50.000 juga diperbarui pada 1 Juni 1999 dengan gambar Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu Indonesia Raya. 5 bulan kemudian, tepatnya pada 1 November 1999, pecahan terbesar rupiah hingga saat ini, Rp100.000, diterbitkan. Uang ini terbuat dari polimer dan bergambar proklamator Indonesia, Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta. Uang ini dicetak oleh Note Printing Australia dan Printing Works Bank of Thailand. Uang Rp1.000 dengan desain baru diterbitkan pada 29 November 2000, Rp2.000 pada 9 Juli 2009, Rp5.000 pada 6 November 2001, Rp10.000 dan Rp50.000 pada 18 Oktober 2005 (uang Rp10.000 mendapat revisi warna pada 20 Juli 2010), dan Rp20.000 dan Rp100.000 pada 29 Desember 2004. Pada 17 Agustus 2014, uang kertas Negara Kesatuan Republik Indonesia pecahan Rp100.000 diterbitkan.
Sementara itu, uang logam pecahan Rp25 tidak lagi dicetak karena nilainya tak berarti lagi akibat merosotnya nilai tukar rupiah. Pecahan rupiah terkecil yang masih ada adalah Rp50 meski jarang sekali digunakan. Uang kertas Rp100 dan Rp500 juga tak lagi dicetak sejak 2001 karena hal yang sama.

2016
Pada 19 Desember 2016, untuk kedua kalinya dalam sejarah Indonesia, semua pecahan uang kertas maupun logam rupiah, mulai dari Rp100 hingga Rp100.000, mengalami pembaharuan desain. Ini merupakan pembaharuan desain yang dilakukan pada tahun yang sama yang pertama sejak 1992. Hal serupa pernah terjadi pula pada 1968.

Demikian sejarah perkembangan nilai nominal rupiah. Rupiah telah mengalami perjalanan panjang selama 70 tahun dan telah kehilangan nilainya begitu besar. Sudah menjadi tugas kita untuk memperkuat nilai tukar rupiah dan menjaga rupiah yang kita miliki sebaik mungkin. Terima kasih telah berkunjung dan semoga hari Anda menyenangkan.


Referensi I



Artikel ini pertama kali dimuat di Kaskus pada 8 April 2016.

Kesalahan Berbahasa dalam Bahasa Indonesia yang Sering Kita Lakukan




Bahasa persatuan negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia, adalah bahasa Indonesia. Lebih tepatnya adalah bahasa Indonesia yang baku dan sesuai dengan pedoman Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) tahun 1972. Namun dewasa ini, hampir semua orang Indonesia tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baku dan sesuai EYD baik di Jakarta maupun daerah. Di Jakarta, orang cenderung menggunakan bahasa gaul sementara di daerah orang lebih sering menggunakan bahasa Indonesia yang dicampur bahasa daerah masing-masing. Bahkan kita mungkin akan tertawa dan merasa aneh mendengar orang berbicara dengan bahasa Indonesia yang baku dan sesuai EYD. Beberapa kesalahan dalam penggunaan bahasa Indonesia telah menjadi sesuatu yang lazim dan akan dibahas dalam artikel kali ini. Apa sajakah itu?

Penggunaan "di"
Kesalahan ini sangat sering terjadi baik di tempat umum, media, maupun internet. Banyak orang melakukan kesalahan dalam menempatkan "di" sebagai kata depan dan sebagai imbuhan. Kata "di" yang seharusnya ditulis sebagai imbuhan malah ditulis sebagai kata depan dan sebaliknya. Berikut contohnya :
Permasalahan itu di selesaikan dengan melakukan musyawarah dikantor kepala desa.
Kalimat di atas mengandung dua kesalahan sekaligus. Pertama, kata "di" pada "di selesaikan" dipisahkan, sementara pada "dikantor" malah digabung. Penulisan yang benar adalah sebagai berikut :
Permasalahan itu diselesaikan dengan melakukan musyawarah di kantor kepala desa.
Agar tak bingung, ini penggunaan "di" yang benar :
Patokan penulisan "di" sebenarnya sederhana saja. Bila "di" diikuti oleh kata kerja, maka gabungkanlah, misalnya "dikerjakan". Akan tetapi, bila diikuti oleh nama tempat, maka pisahkanlah, misalnya "di kantor".
Meskipun tidak sebanyak "di", "ke" juga sering dibalik penggunaannya sebagai kata depan dan imbuhan.
 

Penyebutan Tahun sebelum 2000
Kita cenderung menyebut tahun sebelum 2000 mengikuti cara orang berbahasa Inggris. Misalnya, tahun 1980 disebut "Sembilan Belas Delapan Puluh" ketimbang "Seribu Sembilan Ratus Delapan Puluh". Cara ini terjadi karena pengaruh bahasa Inggris yang menyebut angka tahun per 2 angka ketimbang menyebutnya seperti angka biasa dengan alasan kemudahan. Misalnya tahun 1959 dalam bahasa Inggris adalah Nineteen Fifty Nine. Jika menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka penyebutan angka tahun sama dengan penyebutan angka biasa. 
Penulisan Nilai Mata Uang
Kalau kita menulis harga 55 ribu rupiah misalnya, kita akan menulis "Rp 55.000", "Rp. 55.000", atau "Rp 55.000-,". Dalam bahasa Indonesia, penulisan harga yang benar mengikuti pola ini : (Lambang mata uang)(angka)". Jadi, tidak ada spasi maupun titik di antara lambang mata uang dan angka. Penulisan harga di atas yang benar adalah "Rp55.000,00". Meski secara baku sen juga harus ditulis, namun jika tidak terlalu formal tidak masalah juga kalau sen tidak ditulis karena sen tidak ada nilainya akibat begitu rendahnya nilai rupiah. Sen hanya harus ditulis pada laporan keuangan perusahaan dan pembukuan bank seperti pada buku tabungan. 
Penulisan Waktu
Kalau kita disuruh menulis pukul 8 malam, kita pasti akan menulis "20:00". Padahal cara ini salah. Pada penulisan waktu, tanda baca yang digunakan adalah titik bukan titik dua. Jadi, penulisan yang benar adalah "20.00". Kemudian, sebaiknya padankan waktu dengan kata "pukul" bukan "jam" karena jam merujuk pada durasi waktu (60 menit = 3.600 detik). 
Penggunaan Akhiran yang Tidak Baku
Kita seringkali mengucapkan kata "menetralisir", "mengkoordinir", dan sebagainya. Dalam bahasa Indonesia, tidak ada akhiran "-ir" seperti itu. Yang adalah hanyalah akhiran "-isasi" yang merupakan serapan dari bahasa Inggris. Jadi, penulisan kedua kata di atas yang benar adalah "menetralisasi" dan "mengoordinasikan". 
Tanda Koma sebelum "dan"
Jika kita menuliskan minimal 3 hal yang tergolong sama misalnya dalam kalimat ini :
Perundingan tersebut diikuti oleh perwakilan dari Amerika Serikat,Jerman dan Cina.
Kita seringkali langsung memberi spasi sebelum kata "dan", padahal seharusnya kita menuliskan tanda koma terlebih dahulu dan setiap kali memberi tanda baca berilah jeda 1 spasi terlebih dahulu sehingga kalimat di atas seharusnya menjadi seperti ini :
Perundingan tersebut diikuti oleh perwakilan dari Amerika Serikat, Jerman, dan Cina.
Kalimat pertama dapat bermakna bahwa Amerika Serikat diwakilkan oleh 2 orang dalam perundingan tersebut yaitu Jerman dan Cina. Sementara, kalimat kedua bermakna bahwa ada tiga negara yang diwakilkan dalam perundingan tersebut, Amerika Serikat, Jerman, dan Cina.
Hal ini juga berlaku untuk kata "atau" dan "serta".
 
Penulisan Miring Istilah Asing
Jika kita menulis istilah asing, kata itu harus dimiringkan. Misalnya :
Indonesia mengalami defisit transaksi berjalan atau current account deficit yang cukup besar karena ekspor yang menurun dan impor yang meningkat.
Selain untuk istilah asing, kata-kata yang tidak baku juga sebaiknya dimiringkan.
 
Peluruhan Kata Saat Diberi Imbuhan
Pada kondisi tertentu, kadang huruf pertama sebuah kata harus diluruhkan jika akan diberi imbuhan tertentu. Banyak orang sering melakukan kesalahan dalam melakukan hal ini seperti berikut :
Mensapu
Mensukseskan
Mencontek
Merubah
Penulisan yang benar untuk kata-kata di atas adalah :
Menyapu
Menyukseskan
Menyontek
Mengubah
Kata-kata yang diawali dengan huruf K, T, S, dan P mengalami peluruhan saat diberi imbuhan.

Bila kita akan memadankan imbuhan dengan istilah asing, pisahkan dengan tanda garis(-). Misalnya di-charge dan di-smash.

Penggunaan Kata yang Mubazir
Kita seringkali menggunakan kata yang sebenarnya tidak perlu dituliskan lagi karena sebelumnya sudah dituliskan kata yang bermakna sama atau mengandung makna dari kata tersebut pula. Contohnya :
Maju ke Depan
Mundur ke Belakang
Bola yang Bundar
Pada Zaman Dahulu Kala
Dengan Mata Kepala Saya Sendiri
Dalam istilah bahasa, penggunaan kata mubazir seperti di atas disebut pleonasme. Pembetulan kata-kata di atas adalah:
Maju
Mundur
Bola
Pada Zaman Dahulu
Dengan Mata Kepala Saya

Penggunaan Kata-kata yang Tidak Baku
Kita hampir setiap saat melakukan hal ini. Memakai kata yang tidak baku ketimbang baku dalam menulis. Berikut contoh kata-kata yang tidak baku :praktek, mie, apotik, ijin, belom, antar negara, antri, Pebruari, Nopember, Jum'at, anda, anti korupsi, analisa, silahkan, masup, resiko, bisPenulisan yang benar untuk kata-kata di atas berturut-turut adalah :Praktik, mi, apotek, izin, belum, antarnegara, antre, Februari, November, Jumat, Anda, antikorupsi, analisis, silakan, masuk, risiko, bus
Penggunaan Angka Arab dan Angka Romawi dalam Bilangan Ordinal

Ada 2 cara menuliskan bilangan ordinal (urutan) dalam bahasa Indonesia. Angka Arab (0, 1, 2, dan seterusnya) dapat digunakan untuk menuliskan jumlah maupun urutan. Namun angka Romawi (I, V, X, L, dan seterusnya) hanya dapat digunakan untuk menuliskan urutan. Jadi, penggunaan yang benar untuk dua jenis angka di atas adalah sebagai berikut :Jerman berada di peringkat ke-1 pada tabel peringkat FIFA saat ini.Tahun 2014 termasuk dalam abad XXI.Penduduk Indonesia pada tahun 2014 telah melampaui 250 juta jiwa.
Penulisan Kalimat yang Tidak Lengkap
Terkadang kita tidak menuliskan sebuah kalimat secara lengkap sehingga kalimat tersebut menjadi terdengar tidak masuk akal. Contohnya seperti pada ilustrasi di atas tertulis kalimat "JELANG KENAIKAN BBM". Kalimat ini menjadi terdengar tidak masuk akal karena bukan BBM yang dinaikkan, tetapi harga jualnya. Kemudian sebagai tambahan, kata "jelang" sebaiknya ditambahkan imbuhan "men-". Kalimat tersebut seharusnya menjadi "MENJELANG KENAIKAN HARGA BBM". Namun karena kita sudah terbiasa dengan kesalahan ini, kita tidak lagi merasa ada yang janggal saat mendengar atau melihatnya.
Demikian artikel dari saya kali ini. Berbahasa Indonesia yang baik dan benar memang tidak mudah tetapi bila ada keinginan pasti ada jalan. Tetaplah menjunjung tinggi bahasa persatuan kita. Terima kasih telah membaca dan semoga hari Anda menyenangkan.
Referensi IReferensi IIReferensi III

Artikel ini pertama kali dimuat di Kaskus pada 14 Desember 2014.

Zona Waktu di Dunia


Sebelum tahun 1884, tidak ada satu pun aturan pembagian zona waktu yang baku di dunia ini. Setiap kota menentukan waktunya masing-masing. Ketika manusia mulai melakukan perjalanan jauh dengan kereta api, masalah ketepatan waktu dalam penjadwalan keberangkatan dan kedatangan kereta pun bermunculan. Sir Stanford Fleming, seorang insinyur Kanada menyadari permasalahan ini dan menggagas pembagian dunia ke dalam 24 zona waktu pada akhir 1870. Karena itu, pada 1884 Konferensi Merdian diselenggarakan di Washington D.C. yang menetapkan pembagian zona waktu di dunia ini yang dihadiri oleh 27 negara. Konferensi ini juga menetapkan Greenwich sebagai lokasi patokan zona waktu global. Bagaimanakah sistem pembagian zona waktu global?

Dasar Pembagian Zona Waktu
 Dunia ini dibagi dalam 360 derajat bujur. Bujur atau garis bujur adalah sebuah garis imajiner yang membentang secara vertikal di bumi, sementara yang membentang secara horizontal disebut garis lintang. Berdasarkan 360 derajat bujur ini, dunia dibagi ke dalam 24 zona waktu yang masing-masing sepanjang 15 derajat. Jadi, perbedaan bujur sebesar 15 derajat berarti perbedaan waktu selama 1 jam. Indonesia yang memiliki panjang bujur 46 derajat (95-141 derajat bujur timur) pun terbagi dalam 3 zona waktu : Waktu Indonesia Barat, Waktu Indonesia Tengah, dan Waktu Indonesia Timur. Bujur dibagi 2 : Bujur Barat dan Bujur Timur. Bujur Barat terletak di sebelah barat dari Greenwich, London, Inggris sementara Bujur Timur terletak di sebelah timur dari kota tersebut. Semakin ke barat, zona waktunya semakin lambat begitu pula sebaliknya. Pangkal garis waktu ini adalah Garis Batas Tanggal Internasional yang membentang namun tidak lurus di Kepulauan Pasifik. Dari sisi timur Garis Batas Tanggal Internasional, perhitungan zona waktu dimulai dari UTC-12.00.

3 Tanggal Berbeda Secara Bersamaan
Ada satu kejadian unik yang terjadi setiap hari antara pukul 17.00 dan pukul 18.59 WIB. Dunia ini berada di dalam tiga tanggal yang berbeda. Jadi di saat daerah dengan waktu paling lambat belum memasuki sebuah tanggal, daerah dengan waktu tercepat malah sudah masuk ke tanggal 2 hari berikutnya. Mengapa? Karena selisih antara zona waktu tercepat dan paling lambat adalah 26 jam. Zona waktu paling lambat adalah UTC-12.00 yang dipakai di Pulau Baker dan Pulau Howland sementara zona waktu paling cepat adalah UTC+14.00 yang dipakai di Kiritimati dan Kepualuan Line di Kiribati. Jadi saat di Pulau Howland misalnya menunjukkan pukul 22.15 tanggal 3 Januari, di Kiritimati malah sudah masuk tanggal 5 Januari pukul 00.15. Kiritimati menggunakan zona waktu UTC+14.00 yang sebelumnya tidak ada sejak 1 Januari 1995.

Jumlah Zona Waktu di Dunia

Sebenarnya berapakah jumlah zona waktu yang ada dan masih dipakai di dunia ini? 24? Secara teori benar namun kenyataannya salah! Yang benar adalah 42! Berikut daftar zona waktu yang ada di dunia ini:

Dipakai hingga sekarang (42)

UTC-12.00; UTC-11.00; UTC-10.00; UTC-09.30; UTC-09.00; UTC-08.00; UTC-07.00; UTC-06.00; UTC-05.00; UTC-04.30; UTC-04.00; UTC-03.30; UTC-03.00; UTC-02.30; UTC-02.00; UTC-01.00; UTC; UTC+01.00; UTC+02.00; UTC+03.00; UTC+03.30; UTC+04.00; UTC+04.30; UTC+05.00; UTC+05.30; UTC+05.45; UTC+06.00; UTC+06.30; UTC+07.00; UTC+08.00; UTC+08.30; UTC+09.00; UTC+09.30; UTC+10.00; UTC+10.30; UTC+11.00; UTC+11.30; UTC+12.00; UTC+12.45; UTC+13.00; UTC+13.45; UTC+14.00

Pernah dipakai (15)

UTC-10.30; UTC-08.30; UTC-00.44; UTC-00.25; UTC+00.20; UTC+00.30; UTC+01.24; UTC+01.30; UTC+02.30; UTC+04.51; UTC+05.40; UTC+07.20; UTC+07.30; UTC+08.45; UTC+09.45

Bila digabung, ternyata ada 57 zona waktu yang pernah maupun masih dipakai di dunia ini.



Daylight Saving Time
Di negara-negara Eropa dan Amerika, ada kebijakan yaitu Daylight Saving Time (DST)yang memajukan waktu 1 jam dari seharusnya pada musim panas dan semi(bulan Maret sampai Oktober di belahan bumi utara dan sebaliknya di belahan bumi selatan). Ini dilakukan agar waktu matahari bersinar di musim semi dan panas dapat disesuaikan dengan aktivitas manusia. Di bulan-bulan tersebut, siang harinya lebih panjang dari malam maka di musim panas bisa saja matahari di sana tenggelam di atas pukul 21.00 bahkan pada tengah malam. Di Indonesia, kebijakan seperti ini tidak ada karena panjang siang dan malam di Indonesia sepanjang tahun relatif sama, yaitu sekitar 12 jam.
 

Perubahan Zona Waktu
Untuk maksud dan kepentingan tertentu, beberapa negara mengubah zona waktu yang digunakannya. Beberapa contohnya adalah sebagai berikut.
  1. Indonesia pada 1 Januari 1988 memindahkan zona waktu Pulau Bali dari WIB ke WITA agar turis asal Australia dapat menikmati waktu libur lebih lama di Bali. 
  2. Samoa mengubah zona waktunya dari UTC-11.00 ke UTC+13.00 (maju 24 jam) sehingga negara ini "melompati" tanggal 30 Desember 2011. Maksud dari perubahan ini adalah untuk menambah hari perdagangan aktif dalam sepekan dengan Australia dan Selandia Baru.
 

Demikian artikel dari saya kali ini. Semoga artikel ini menambah pengetahuan Anda. Terima kasih telah membaca dan semoga hari Anda menyenangkan.






Artikel ini pertama kali dimuat di Kaskus pada 22 Desember 2014.

Jumat, 25 Desember 2015

Love My Hater - Part 8 : Terbagi Dua

Claudia tidak mengetuk pintu, melainkan mengintip dari lubang kecil yang ada di pintu. Apa yang dapat dilihat  Claudia dari lubang pintu benar-benar membuatnya shock. Ia melihat Friedrich dan Julia berpelukan dan berciuman. Karena Friedrich jauh lebih tinggi dari Julia, Friedrich harus menekuk kakinya agar bisa menciumi Julia. Air mata Claudia mulai bercucuran, mengiringi hatinya yang tersayat begitu menyakitkan. Ia berusaha tidak mengeluarkan sepatah kata pun agar tak ketahuan. Ia mengendap-endap kembali ke kamarnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Sesampainya di kamar, ia menangis dengan wajah ditutupi bantal agar tak mengeluarkan suara.

Sementara itu, di kamar sebelah...

“Julia, apa kau serius ingin berhubungan denganku? Kau ‘kan tahu aku sudah 4 tahun berhubungan dengan Claudia.” tanya Friedrich sambil mengusap kepala Julia dari belakang.
“Iya. Sebenarnya sejak menjelang kelulusan SMA, benih cinta sudah mulai tumbuh di hatiku. Aku cuma menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya dan sekaranglah waktunya.” Balas Julia.
“Jadi begitu.” Jawab Friedrich, singkat.
“Oh ya, apa ini artinya kau akan meninggalkan Claudia?” tanya Julia.
“Tidak, aku gak ingin meninggalkannya. Kau sudah tahu ‘kan kalau kami akan menikah bulan depan? Aku cuma merasa kurang kalau hanya punya satu cewek. Aku ingin tahu sensasinya punya selingkuhan.” Ucap Friedrich sambil mencium tangan Julia.
“Apa artinya aku hanya akan menjadi yang kedua?” tanya Julia.
“Tidak juga. Kau mendapat tempat di hatiku sama seperti Claudia.” Balas Friedrich.
“Maksudmu?” tanya Julia kebingungan.
“Secara resmi, Claudia adalah pasanganku dan mengisi setengah hatiku. Tapi kau mengisi setengahnya lagi.” Jawab Friedrich.
Oh, sepertinya aku harus segera kembali ke kamar. Kalau lama-lama, Claudia bisa curiga.” Julia melepaskan diri dari pelukan Friedrich dan keluar dari kamar.

Claudia masih menangis di bawah bantal saat tiba-tiba pintu kamar terbuka.

“Claudia, maaf ya lama! Lho, kamu kenapa nangis?” tanya Julia kebingungan melihat mata Claudia yang bengkak.
“Oh, aku abis nonton film sedih di internet sampai aku nangis.” Kata Claudia sambil mengusap air mata dari wajahnya.
Oh gitu! Maaf ya lama, tadi aku harus cari dulu power bank aku, soalnya tadi keselip di mana gitu!” balas Julia sambil merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.
“Oh ya, Julia. Aku ingin menanyakan sesuatu yang agak private. Kamu gak keberatan, ‘kan?” Claudia bertanya dengan kata-kata yang nyaris sama dengan yang diucapkan Julia sebelumnya.
“Boleh. Tanya apa?” tanya Julia.
“Kalau kamu punya sahabat kayak aku, terus dia selingkuh sama cowok kamu, siapa yang akan kamu pilih?” tanya Claudia. Julia menjadi terkejut sekali.
“Mak...maksud kamu?” tanya Julia agak gugup.
“Kamu akan pilih mempertahankan persahabatanmu atau menyelamatkan hubunganmu dengan cowok itu?” tanya Claudia. Julia sempat kebingungan harus menjawab apa namun ia berhasil mengendalikan diri.
“Aku akan memilih persahabatan. Untuk apa mempertahankan hubungan dengan cowok yang gak setia seperti itu.” Jawab Julia mantap.
“Sekalipun kamu sangat mencintainya?” lanjut Claudia.
“Iya! Sebuah hubungan membutuhkan kepercayaan dan komitmen kuat agar bertahan. Jika sebelum menikah saja, ia sudah terpikat dengan yang lain, apalagi jika nanti kita sudah menjadi suami-istri.” Jawab lagi Julia.
"Kamu memang tipe cewek yang cemburuan." Balas Claudia sedikit tersenyum. Julia pun mengambil handphone-nya dan membuka kontak chat dengan seseorang.

Sementara Julia sedang asyik mengobrol lewat chat, Claudia beranjak dari kamar dan turun menuju lobi hotel. Claudia keluar ke halaman depan hotel dan mengambil sebungkus rokok dari kantong celananya. Ia mengambil sebatang rokok dan pemantik api dari dalam bungkus itu. Dinyalakannya rokok tersebut di mulutnya lalu ia mulai mengisapnya. Ia berpura-pura telah berhenti merokok di depan Julia agar Julia mengikutinya berhenti merokok. Namun sebenarnya, ia masih sering merokok saat berada di rumah. Sambil mengisap sebatang benda putih dengan ujung yang membara, Claudia memikirkan kelanjutan dari hubungannya dengan Friedrich yang sudah 4 tahun berjalan.

“Friedrich, tega banget sih kamu. Bulan depan ‘kan kita udah resmi jadi suami-istri. Apa kurangnya aku sampai kamu kepincut Julia? Apa aku kurang cakep? Kurang perhatian? Kurang sayang sama kamu?” Claudia mengisap rokoknya sambil mulai mencucurkan air matanya lagi.
"Ternyata benar kata Julia. Kamu memang cowok brengsek dan aku memang bakal menderita kalau bersama kamu. Tapi ternyata kamu membuatku menderita dengan berselingkuh dengan Julia." Air mata Claudia mengalir semakin deras. Mendadak langit menjadi gelap dan hujan pun turun, mengiringi kesedihannya yang amat pedih. Rintik-rintik hujan membuat air matanya seolah-olah ikut berjatuhan dengan air hujan ke tanah. Claudia berlutut dan semakin larut dalam kesedihan. Rokok yang dihisapnya mulai padam dan lembek karena terkena air hujan.

"Claudia! Ya ampun, kamu ngapain hujan-hujanan di luar? Nanti kamu sakit loh! Ayo masuk!" Friedrich yang memayungi dirinya dari hujan mengajak Claudia masuk ke dalam. Claudia yang sebenarnya enggan mengikuti saja.

"Kamu kenapa sih, sayang? Kok hujan-hujanan di luar? Nanti kamu sakit, aku yang khawatir." Friedrich bertanya sambil mengeringkan Claudia dengan handuk.
"Aku cuma lagi pengen aja main hujan-hujanan. Terakhir aku main hujan-hujanan, itu ketika aku masih berusia 7 tahun." Jawab Claudia.
"Kamu ini aneh-aneh aja sayang!  Aku 'kan gak mau kamu sakit. Kalau kamu sakit, hatiku juga sakit.” Balas Friedrich.
“Dasar gombal. Sudah selingkuh di belakangku, sekarang pura-pura perhatian sama aku!" Di dalam hati, Claudia merasa kesal dengan Friedrich. Namun, ia tetap berpura-pura seakan-akan tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Ketiganya terus saja saling menyimpan rahasia sampai hari terakhir liburan mereka.

Liburan mereka berakhir. Saat menunggu kereta yang akan memberangkatkan mereka ke Jakarta...

"Oh ya, kalian bawa oleh-oleh apa ke Jakarta?" tanya Claudia.
"Mau tahu aja atau mau tahu banget?" balas Julia dengan usilnya.
"Mau tahu banget dong!" balas Claudia sambil menyentil pipi Julia.
"Aww! Sakit tahu!" kata Julia yang kesakitan sambil mengambil sesuatu dari kantong celana jinsnya.
"Iya maaf! 'Kan cuma becanda!" Balas Claudia.
"Aku sih cuma beli perhiasan perak untuk ibu di rumah." tanggap Friedrich.
"Kalau aku beli bakpia 3 kotak buat dimakan di kos-kosan. Kamu sendiri beli apa?" Seru Julia.
"Kalau aku beli kaus sekodi. Lihat nih!" Kata Claudia sambil menunjukkan sekodi baju yang ada di dalam tasnya.
"Ya ampun. Pantesan tas kamu penuh. Perasaan pas berangkat, tasnya kurus." Balas Friedrich.
"Iya, habis bajunya bagus-bagus. Jadi pingin beli banyak-banyak. Habis 500 ribu deh!" Lanjut Claudia.
"Kita kebagian gak?" tanya Julia.
"Pastinya dong! Nih" Kata Claudia sambil mengambil dua buah kaus berwarna putih bertuliskan "KAMI GAK PACARAN, CUMA FRIENDZONE" dan memberikannya kepada Julia dan Friedrich masing-masing satu.

Bus Terakhir

Kakiku melangkah agak sedikit sempoyongan. Arlojiku menunjukkan waktu pukul 22.15. Huh! Sudah cukup larut malam. Pasti Claudie akan marah-m...